Google

Memuat...

Senin, 24 Agustus 2009

SEBAB-SEBAB AMAL IBADAH TIDAK DITERIMA

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”. (QS Adz-Dzariyaat(51):56)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh,

Saudari-saudariku seiman,

Tadzkiroh kali ini membicarakan masalah ibadah yang tidak diterima, saya awali dengan mengutip ayat 56 dari Surat Adz-Dzariyaat(51) untuk menjelaskan bahwa tujuan kita (manusia) hidup di dunia ini semata adalah menyembah Allah SWT. Yaitu dengan bertaqwa kepadaNya dan mengerjakan amal shalih (mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya). Inilah yang disebut ibadah.

Semua amal ibadah yang kita lakukan harus berlandaskan kepada iman, percaya bahwa Allah saja penjamin hidup kita di dunia dan akhirat. Segala apa yang kita nikmati di dunia ini tidak lain adalah anugerah dariNya dan juga kebahagiaan kita di hari akhirat semata hanya karena rahmatNya. Kalau ibadah yang kita lakukan sesuai dengan apa yang disebutkan tadi, Insha Allah, sudah tepat sasaran dan tujuannya. Tetapi tidak semua amal ibadah kita diterima olehNya karena ada syarat-syarat yang tidak kita penuhi dalam ibadah tersebut.

Oleh karena itu kita wajib mengetahui bagaimana cara beribadah dan syarat-syarat agar diterima olehNya sehingga tidak sia-sialah apa yang kita kerjakan,Insha Allah.

Syarat yang pertama adalah NIAT yang ikhlas yang ditujukan hanya kepada Allah SWT.

Amirul mukminin, Umar bin Khatab Radhiyallahu’anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Buhkari dan Muslim)

Hadits di atas adalah salah satu pokok penting ajaran Islam, yaitu menyangkut

masalah niat. Menurut Imam Ahmad dan Imam Syafi’i niat itu mencakup sepertiga ilmu karena perbuatan manusia terdiri dari niat, ucapan dan tindakan. Pada hadits ini disebutkan “segala amal hanya menurut niatnya” , yang dimaksud dengan amal disini adalah amal yang dibenarkan syari’at (ibadah) sehingga setiap ibadah tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama Islam. Dan pada kalimat “setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” menunjukkan sah tidaknya amal ibadah bergantung kepada niatnya.

Oleh karena itu, luruskanlah niat beribadah hanya kepadaNya. Jangan dirusak oleh hal-hal yang hanya mencari keuntungan hidup di dunia yang menyebabkannya beribadah hanya karena rasa riya dan pamer atau ditujukan untuk selain Allah. Melaksanakan shalat hanya agar dipandang sebagai orang yang shalih. Maka yang ia dapatkan hanyalah pandangan manusia yang lain yang menyatakannya orang shalih, bukan dimata Allah. Atau bersedekah agar dipandang orang sebagai seorang dermawan, maka kedermawanan itu hanya gelar yang ia dapat dari manusia lain, bukan dari Allah. Atau tujuan menuntut ilmu agar dihormati sebagai ilmuwan dan bisa mendapatkan materi yang melimpah dari ilmunya tersebut, maka ilmu yang ia peroleh hanya memberinya keuntungan hidup di dunia saja.

Firman Allah dalam Surat Hud(11):15-16 :”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan di dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”

Imam Alghazali mengatakan bahwa orang yang beribadah kepada Allah SWT tapi dalam hatinya terkandung maksud untuk mendapatkan sesuatu dari sesama makhluk Allah, maka berarti ia mengejek Tuhannya karena amalannya tidak benar-benar ditujukan karenaNya.

Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits Qudsi): “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang diarahkan sebagai menyekutukan ZatKu dengan selainKu, maka semua amalannya adalah untuk apa yang dijadikan sekutuKu tadi, sedang Aku lepas sama sekali daripadanya. Aku adalah sekaya-kayanya orang yang kaya dari perbuatan syirik itu (yakni Aku paling tidak membutuhkan sekutu itu)”.

Beliau SAW bersabda pula: “Sesungguhnya yang amat kutakuti dari segala hal yang kutakuti atasmu itu ialah syirik kecil” Para sahabat lalu bertanya: “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau SAW menjawab: “Yaitu riya (pamer). Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, yaitu diwaktu sekalian hamba melihat hasil-hasil amalannya: “Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan bahan pameran (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka itu?” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi)

Syarat yang kedua adalah mengerjakan amal ibadah sesuai dengan ajaran dan petunjuk dari Rasulullah SAW.

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Israa’(17):36 ;”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”

Ayat ini menerangkan bahwa apa saja yang kita lakukan (khususnya ibadah) harus mempunyai ilmu pengetahuan tentangnya. Jangan asal ikut-ikutan ataupun membuat-buat sendiri. Allah SWT mengutus Rasulullah SAW tidak lain adalah untuk di ikuti. Beliau SAW telah memberikan contoh kepada umat Islam tentang bagaimana cara beribadah, baik itu ibadah wajib, sunnat sampai hal yang sekecil-kecilnya yang kita lakukan dalam kehidupan ini.

Untuk ibadah wajib seperti shalat, zakat, puasa dan menunaikan ibadah haji wajib pula hukumnya memiliki ilmu untuk mengerjakan ibadah tersebut. Semua itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan kita harus mempelajarinya dengan membaca dan memahami baik dari hadits maupun bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan tentang hal itu.

Dalam Surat An-Nahl(16):43 Allah berfirman:”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.


Begitu juga dengan ibadah-ibadah sunnat. Hendaknya kita kerjakan sesuai dengan apa yang telah Rasulullah SAW kerjakan, jangan ditambah-tambah dan dikurangi. Dalam hadits riwayat Muslim, dari ‘Aisyah r.a katanya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengamalkan suatu amal (ibadah) yang tidak pernah kami lakukan, maka amalnya itu ditolak.”

Betapa ruginya jika kita melakukan sesuatu tanpa pengetahuan dan hanya menuruti saja langkah orang lain, baik nenek moyangnya karena kebiasaan, adat istiadat dan tradisi yang diterima, membuat kita percaya begitu saja tanpa mau mencari tahu apakah itu benar menurut Islam apa tidak.

Syarat yang ketiga diterimanya amal ibadah adalah SHALAT.

Bersabda Rasulullah SAW: “Permulaan amalan yang diperiksa dari amalan seseorang hamba pada hari kiamat ialah shalatnya. Diperhatikan benar-benar shalatnya. Maka jika betul urusan shalatnya, mendapat kemenanganlah ia. Jika tidak betul urusan shalatnya, rugi dan sia-sialah usahanya.” (H.R. Ath Thabarany dari Anas r.a.).

Ibarat rumah, shalat adalah tiangnya. Ibadah-ibadah yang lain disamakan dengan rangka-rangka rumah yang gunanya buat mencukupi keperluan alat-alat rumah sesudah ada tiangnya. Jika tiang tidak ada, maka dengan apa rangka-rangka tersebut ditopang? Begitu juga ibadah-ibadah yang lain, bergantung kepada diterimanya shalat. Apabila shalatnya ditolak, maka ditolak pula segala amal ibadah yang lain.

Oleh karena itu, kita harus menyempurnakan ibadah shalat kita yang menjadi salah satu syarat ibadah-ibadah yang lain diterima oleh Allah SWT.

Saudari-saudariku seiman,

Sebab-sebab ibadah tidak diterima adalah jika syarat-syarat di atas tidak terpenuhi. Entah itu salah satu dari ketiganya atau malah ketiga-tiganya. Oleh karena itu tugas kita sebagai hambaNya adalah memenuhi syarat-syarat tersebut dengan tujuan agar Allah menerima amal ibadah kita. Ini adalah suatu usaha dan usaha itu wajib hukumnya. Tetapi, bagaimanapun, diterima atau tidak amalan-amalan tersebut, kita serahkan hanya kepada Allah SWT yang mempunyai hak penuh untuk itu.

Setelah menjalankan semua syarat, tugas kita yang lain adalah merendahkan diri dihadapan Nya, menyadari bahwa semua ibadah yang kita lakukan tidak ada artinya apa-apa dibanding nikmat yang telah Dia limpahkan untuk kita.Takutlah hanya kepadaNya, karena dengan rasa takut itu akan mendorong kita untuk menjalankan ibadah dengan lebih baik dan sempurna. Senantiasalah meminta ampun atas semua khilaf dan dosa walau terkadang kita tidak menyadari telah melakukannya.

Semoga Allah menerima segala amal ibadah dan tobat kita. Amin!!!

Wassalam,

Mithy Harjo
http://sister.imsa.us/


.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar