Google

Memuat...

Senin, 17 Agustus 2009

Peneliti UI Kembangkan Ragi Jadi Produk Unggulan

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Depok,Para peneliti Universitas Indonesia (UI) menampilkan beberapa riset unggulan di bidang biologi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di kampus perguruan tinggi itu, Jumat (3/7). Para peneliti UI banyak mengembangkan karya-karya bermanfaat yang berasal dari mikro-organisme asli Indonesia seperti jamur dan ragi (khamir). Saat ini para peneliti UI telah memiliki 2.500 isolat (mikro-organisme) melalui lembaga University of Indonesia Culture Collection (UICC).

Devie Rahmawati, Deputi Direktur Kantor Komunikasi UI dalam siaran persnya menyebutkan, pengembangan ragi sebagai salah satu mikroorganisme Indonesia telah berhasil menjelma menjadi produk-produk unggulan. Menurut Devie, saat ini para peneliti UI yang tergabung dalam UICC telah menemukan solusi untuk dapat memanfaatkan minyak goreng bekas dengan menggunakan mikro-organisme khamir (ragi). Dengan khamir, minyak jenuh tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar (biodiesel).

Selain itu, khamir dapat menguraikan limbah minyak goreng agar tidak berbahaya bagi

mahluk hidup lain di sungai atau laut. Karena minyak goreng memiliki ikatan polimer yang kompleks, bila sisa minyak goreng dibuang ke sungai misalnya, gumpalan minyak goreng tersebut akan menutup sungai hingga menahan oksigen yang masuk ke dalam sungai. Hal ini menyebabkan mahluk hidup lain di sungai akan mati.

Tidak hanya itu, karena kepadatan ikatan polimernya, limbah minyak goreng juga dapat menyebabkan penyumbatan pipa-pipa pembuangan pada rumah tangga dan restoran. Dengan kekuatan khamir, penyumbatan tidak perlu terjadi lagi. Bahkan limbah minyak goreng bekas pakai restoran dan rumah tangga pun dapat diubah menjadi material yang tidak beracun (toksik) sebelum dibuang ke lingkungan. Hal ini dimungkinkan karena khamir indigenous Indonesia mampu menghasilkan enzim lipase yang dapat menguraikan minyak goreng bekas pakai dari senyawa kompleks (dan lebih toksik) menjadi senyawa yang lebih sederhana dan tidak toksik (beracun).

Penelitian ini dilakukan menggunakan 326 isolat khamir dari mangrove Cagar Alam Pulau Rambut, Cagar Alam Muara Angke dan perairan Teluk Jakarta untuk mendegradasi minyak goreng bekas pakai berulangkali. Kerja lipase dari isolat-isolat potensial dapat mengurangi minyak goreng bekas pakai dari medium fermentasi sekitar 29 hingga 50 persen. Hasil hidrolisis enzim lipase pada minyak goreng bekas pakai memperlihatkan adanya variasi konsentrasi asam lemak jenuh (laurat, palmitat, miristat, stearat) dan tidak jenuh (oleat, linoleat).

Peneliti UI, kata Devie, juga menciptakan pestisidda yang aman untuk dikonsumsi oleh manusia dengan menggunakan ragi. Tidak sebatas aman bagi kesehatan, tapi sekaligus mampu membunuh jamur patogen yang berpeluang tumbuh pada buah dan tanaman. Percobaan telah dilakukan pada buah tomat yang disemprot dengan suspensi sel khamir.

Terbukti khamir mampu mencegah pertumbuhan jamur patogen dan mencegah kebusukan pada buah tersebut (hingga satu bulan tetap segar). Kemampuan khamir tersebut setara dengan peggunaan fungisida sintetik Dithane M-45. Penggunaan khamir sebagai pestisida (biofungisida) merupakan salah satu alternatif yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia serta berpotensi menggantikan fungisida sintetik.

Selain itu, ragi pun dapat diolah menjadi alat sensor racun yang berwujud seperti plat dengan ukuran kurang lebih 4 x 8 cm. Alat sensor ini digunakan untuk mendeteksi logam berat Cuprum (II) pada larutan. Kemampuan deteksi 500-2000 ppm. Biosensor menggunakan khamir ini keunggulannya mampu menganalisa lebih cepat dan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan Atomic Analysis Spectrophotometes (AAS). AAS sendiri berukuran sebesar lemari es. Racun yang dapat dideteksi biasanya konsentrasi logam pada instalasi pengolahan limbah industri (sebelum dan setelah pengolahan limbah), dan pengukuran konsentrasi logam di lingkungan.bur

www.republika.co.id

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar