Tampilkan postingan dengan label Pertambangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertambangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2009

Kepala Teknik Tambang

Sebagai seorang yang bekerja dilingkungan tambang, kita selalu bertemu dengan kalimat Kepala Teknik Tambang atau yang disingkat KTT, dan itu juga menjadi pertanyaan teman2 kita yang pingin tahu..."siapa KTTnya?"


Pengangkatan Kepala Teknik Tambang

(1) Kegiatan eksplorasi atau eksploitasi baru dapat dimulai setelah pemegang Kuasa Pertambangan memiliki Kepala Teknik Tambang.
(2) Pengusaha wajib menunjuk Kepala Teknik Tambang dan mendapat pengesahan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
(3) Pengusaha dapat mengajukan permohonan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang untuk mengangkat lebih dari seorang Kepala Tekhnik Tambang apabila dianggap perlu atau berdasarkan pertimbangan tertentu dari Kepala Pelaksa Inspeksi Tambang.
(4) Pengusaha dapat mengajukan permohonan kepada Kepala Pelaksa Inspeksi Tambang untuk mengangkat satu atau lebih Wakil Kepala Teknik Tambang apabila dianggap perlu atau berdasarkan pertimbangan tertentu dari Kepala Pelasa Inspeksi Tambvang.
(5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan (4) akan ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
(6) Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dapat memberikan surat keterangan kepada Kepala Teknik Tambang berdasarkan permintaan.


Persyaratan Kepala Teknik Tambang

Kepala Teknik Tambang dibagi atas 4 (empat) kelasifikasi dengan urutan sebagai berikut:
a. Kelas III B
b. Kelas III A
c. Kelas II dan
d. Kelas I



Kepala Teknik Tambang Kelas III B

Kepala Teknik Tambang Kelas III B, harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Sistem penambangan : tambang semprot (Hidrolis), tambang bor, tambang terbuka berjenjang tunggak dan tanpa menggunakan bahan peledak, kapal keruk dengan menggunakan pompa isap, tambang batubara terbuka dengan sistem manual atau tambnag tanpa eksplorasi tampa terowongan dan tanpa konstruksi tambang terbuka;
b. Perusahaan pertambnagn : perseorangan, koperasi, dan perusahaan swasta nosional dan
c. Kualifikasi:

Yang harus dimiliki dapat merupakan salah satu dari ketentuan berikut ini:
1) Bagi lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) Tambang/Mesin/Listrik telah memiliki sertifikat kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan mempunyai pengalaman kerja pertambangan sekurang-kurangnya selama 4 tahun, atau
2) Bagi Sarjana Muda atau DIII dan atau Sarjana, memiliki sertifikat kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan mempunyai pengalaman kerja pertambangan sekurang-kurangan 2 tahun.


Kepala Teknik Tambang Kelas III A

Kepala Teknik Tambang Kelas III A, harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Sistem penambangan : kapal keruk dengan menggunakan mangkok, tambang terbuka berjenjang lebih dari satu, kuari, tambnag terbuka dengan skala produksi lebih kecil 1000 ton perhari atau tambang terbuka tahap kegiatan eksplorasi dengan terowongan dan konstruksi tambang bawah tanah;
b. Perusahaan pertambangan : perusahaan swasta nasional dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan
c. Kualifikasi :
Yang harus dimiliki dapat merupakan salah satu dari ketentuan berikut ini:
1) Gagi lulusan STM Tambang/Mesin/Listrik telah memiliki sertifikat kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta sertifikat dan juru ledak Kelas II untuk tambang yang menggunakan bahan peledak, atau memiliki sertifikat kursus Kepala Keruk untuk tambang yang operasinya menggunakan Kapal Keruk atau memiliki sertifikat Kursus Kepala Teknik Tambang dengan mempunyai pengalaman kerja pertambang sekurang-kurangnya 6 tahun, atau
2) Bagi lulusan Sarjana Muda atau DIII dan atau Sarjana, memiliki sertifikat kursus Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan juru ledak Kelas II untuk tambang yang menggunakan bahan peledak atau telah memiliki sertifikat kursus Kapal Keruk untuk tambang yang operasinya memakai Kapal Keruk atau memiliki sertifikat kursus Kepala Teknik Tambang dengan pengalaman kerja pertambang sekurang-kurangnya 3 tahun, atau
3) Mempunyai pengalaman khusus pernah menjadi Kepala Teknik Tambang Kelas III B sekurang-kurangnya selama 5 tamun.



Kepala Teknik Tambang Kelas II

Kepala Teknik Tambang Kelas II harus memenuhi Kriteria sebagai berikut:
a. Sistem penambangan : tambang terbuka dengan skala produksi lebih besar dari 1000 ton per hari dan tambang bijih bawah tanah;
b. Perusahaan pertambangan : BUMN, kontrak Karya, dan perusahaan swasta nasional dan
c. Kualifikasi:
1) Warga negara Indonesia
Memiliki salah satu dari ketentuan berikut ini:
a) Bagi lulusam Sarjana Muda atau DIII telah memiliki sertifikat kursus Kepala Teknik Tambang, dengan pengalaman kerja ditambang terbuka atau tambang bijih bawah tanah sekurang-kurangnya selama 7 tahun, atau
b) Bagi Sarjana yang memiliki sertifikat kursus Kepala Teknik Tambang, dengan mempunyai pengalaman kerja di pertambang sekurang-kurangnya selama 5 tahun, atau
c) Pernah menjabat sebagai Pelaksana Inspeksi tambang sekurang-kurangnya selama 10 tahun, atau
d) Memiliki sertifikat kursus atau pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pertambangan diluar negeri dan diakreditasi oleh panitia pengesahan Kepala Teknik Tambang dengan pengalaman kerja 10 tahun di pertambangan.
2) Warga Negara Asing (tenaga ahli asing) bisa salah satu dari:
a) Memiliki mining manager sertifikat yang telah diakreditasi oleh Panitia Pengesahan kepala teknik Tambang, atau
b) Membuat dan mempresentasikan makalah yang ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.



Kepala Teknik Tambang Kelas I

Kepala teknik Tambang Kelas I harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Sistem penambangan : tambang batubara bahwa tanah, tambang bijih bawah tanah dengan skala produksi bijih lebih besar dari 1000 ton per hari
b. Kualifikasi:
1) Warga Negara Indonesia.
Memiliki salah satu dari ketentuan berikut ini:
a) Bagi lulusan Sarjana Muda atau DIII, Sarjana yang telah memiliki sertifikat kursus Kepala Teknik Tambang dengan pengalaman kerja di tambang batubara bawah tanah dan atau tambang bijih bawah tanah sekurang-kurangnya selama 10 tahun, atau
b) Pernah menjabat sebagai Pelaksana Inspeksi Tambang sekurang-kurangnya selama 15 tahun, atau
c) Bagi KepalaTeknik Tambang Kelas II dengan pengalaman 5 tahun menjabat posisi tersebut.
2) Warga Negara Asing (tenaga ahli asing) bisa salah satu dari:
a) Memiliki mining manager sertifikat yang telah diakreditasi oleh Panitia Pengesahan Kepala Kepla Teknik Tambang, atau
b) Membuat dan mempresentasikan makalah yang ditetapkan oleh Kepala Pelaksana inspeksi Tambang.





baca selanjutnya »»

Rabu, 09 Desember 2009

Teknik Metode Pertambangan Batubara

Batubara adalah batuan yang berasal dari tumbuhan yang mati dan tertimbun endapan lumpur, pasir dan lempung selama berjuta-juta tahun lamanya. Adanya tekanan lapisan tanah bersuhu tinggi serta terjadinya gerak tektonik mengakibatkan terjadinya pembakaran atau oksidasi yang mengubah zat kayu pada bangkai tumbuh-tumbuhan menjadi batuan yang mudah terbakar yang bernama batubara.

Di Indonesia terdapat tambang besar batubara seperti tambang umbilin di sawahlunto sumatera barat dan tambang bukit asam di sumatra selatan. Beberapa macam / jenis metoda penambangan barubara :

1. Penambangan Terbuka
Melakukan kegiatan menambang batubara tanpa melakukan penggalian berat karena karena letak batubara yang dekat dengan permukaan bumi.

2. Penambangan Dalam
Untuk menambang batubara dengan teknik tersebut harus dibuat terowongan yang tegak hingga mencapai lapisan batubara. Selanjutnya dibuat terowongan datar untuk melakukan penambangan.

3. Penambangan Jauh

Pertambangan ini dilakukan ketika area batubara berada di bawah bukit di mana dibuat terowongan miring hingga mencapai lapisan batu bara.

4. Penambangan Di Atas Permukaan
Jenis kegiatan menambang batubara ini dilakukan jika batubara yang diincar berada pada perut bukit, yang di mana perlu terowongan datar untuk dapat mulai menambang batubara tersebut.


http://organisasi.org/

baca selanjutnya »»

Senin, 03 Agustus 2009

membuat briket arang

Langkah-langkah untuk membuat briket arang adalah sebagai berikut:

• Potong ujung drum. Balikkan, lalu potong lingkaran kecil, selebar 20 cm, di tengah-tengah tutup ujung yang lain. Pastikan tepiannya yang tajam dilekukkan ke dalam.

• Isi drum dengan daun-daun bambu yang segar, pecahan batang bambu yang tipis (tidak kering), tempurung kelapa dan sabutnya, sekam kopi, sekam padi, dedaunan(daun bambu yang terbaik).

Bakar bahan-bahan tersebut dengan perlahan dan sekali-kali aduk api dengan batang kayu melalui lubang atas drum. Sekali-sekali, cipratkan air untuk memperlambat proses pembakaran. Tambahkan sisa bahan-bahan kalau ada. Ketika semua bahan telah terbakar dan menjadi potongan-potongan arang hitam, matikan api dengan air. Arang hitam akan tertinggal di bawah.

• Buat perekat. Lumatkan beberapa singkong segar dan ambil santannya. Tambahkan air untuk membuat lem/perekat yang kental. Atau, hancurkan batang singkong, taruh dalam ember (tidak termasuk kulitnya) dan campur dengan air. Biarkan campuran mengendap. Campuran itu akan terpisah menjadi air pada atasnya dan perekat berada di bawah. Tuangkan air keluar sehingga yang tertinggal hanya perekatnya.

• Campur arang hitam dengan lem/perekat singkong. (90 sampai 95% arang dan 5 sampai 10% perekat singkong.) Letakkan campuran ini ke dalam cetakan, lalu jemur di bawah sinar matahari sampai kering.


Menggunakan Briket Arang

Briket arang dapat digunakan untuk memasak dengan api terbuka, tungku atau oven tanah liat. Briket arang akan terbakar perlahan-lahan dan menghasilkan panas yang konstan. Mulailah membuat api kecil dengan batang kayu lalu tambahkan briket arang ketika api mulai menyala. Perlahan briket akan terbakar dengan sendirinya. Tambahkan beberapa batang kayu lagi jika Anda perlu meningkatkan panas, dan tambah lagi briket arang jika diperlukan.

http://www.idepfoundation.org/download_files/permakultur/MOD12-teknologitepat.pdf

Cara Lain:

Kaleng bekas biskuit/krupuk yang masih ada tutupnya dan berukuran cukup besar. Potong kecil2 kayunya lalu masukkan kedalam kaleng hingga penuh. Tutup lalu kocok2 agar dapat diketahui apakah masih bisa ditambah kayunya. Balikkan kaleng, buka tutupnya, taruh di tanah. Buat api unggun disekeliling dan diatas kaleng. Biarkan api mati dengan sendirinya, lalu ambil kaleng tsb, balikkan. Sekarang kayu sudah menjadi arang. Berapa lama proses ini, silakan bereksperimen.

Perhatian: tutup harus dibuka agar gas didalam kaleng tidak terakumulasi, yang dapat menyebabkan kaleng pecah atau meledak.

Briket sekam padi:

Pipa besi 4″, P: 120 cm, T: 150 dari tanah sudah termasuk 3 kaki (ukuran tidak mutlak). Lubangi pipa untuk keluarnya asap/panas (kemungkinan lubang harus banyak sekeliling pipa?). Tumpuk sekam yang sudah kering sekeliling pipa. Masukkan bara kedalam pipa. Sesekali percikkan air ke sekam agar jangan sampai terbakar habis. Jika pembakaran sudah 90%, pindahkan pipa ketempat lain, lalu balik2 sekamnya agar proses pengarangan menjadi rata. Perekat tetap menggunakan aci/sari perasan singkong. Arang dicampur aci hingga rata, lalu masukkan kedalam cetakan (bambu, misalnya), dan jemur hingga kering.

baca selanjutnya »»

Sabtu, 01 Agustus 2009

Manfaat abu batubara

Source: www.baungcamp.com

Salah satu produk samping dari hasil pembangkitan tenaga listrik PLTU batubara adalah abu batubara. Pada awalnya abu ini merupakan limbah yang tidak bisa dimanfaatkan lagi, tetapi setelah dikaji lebih jauh ternyata abu batubara dapat dimanfaatkan karena berbentuk partikel halus amorf dan bersifat Pozzolan dan dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat.

Abu batubara yang dihasilkan oleh Unit Bisnis Pembangkit Suralaya yang mempunyai total kapasitas terpasang dari pembangkit 3400 MW, adalah 1200 ton perhari dengan kehalusan 200 mesh.

Kandungan unsur yang ada didalamnya adalah :


KANDUNGAN PROSENTASE
Silica 51,82 %
Alumina 30,98%
Hematid 4,93%
Kapur 4,66%
Magnesium 1,52%
Sulfat 1,51%
Carbom Content 1,52%
Total Alkali 1,42%


Dari hasil penelitian, abu batubara tersebut dapat dimanfaatkan dengan matriks sebagai berikut:


*
Cement
Portlant clinker, portland filler, blast furnace cement filler, slag filler preparation, activated flag cement
*
Concrete
Concrete mortar, plaster mortar, masonry mortar, foam concrete, dry mix, fly ash sand,concrete road, concrete product (flag stone, paving stone, kerb stone, sewer pipe / pit, pile)
*
Ceramics
Paving stone, brick, roof tiles, porous tiles, polysil tiles, ceramic tiles & paver blocks.
*
Civil Engineering Application
Asphalt filler, road stabilization subbasis, banks, dikes, Industrial area, Hydraulic engineering, road construction, slopes, ramps, approach road, concreted road.
*
Lime
Sand lime / calsium silicate brick, Insulation material, Cellulare concrete, Gascon, Mansory mortar, Sewage sludge stabilizer.
*
FGD Gypsum
Indoor wall blocks, cardboard / fibreboard self levelling floors, retarding agent
*
Miscellaneous
Zeolite synthesis
*
Synthetic Artificial
Aardilite, a lime bound artificial gravel, Lytag, asintered light weight systhetic gravel.
*
Upgrading Technique
Calcining, sintering, windsifting, sleving, screening, grinding, milling, mixing blending, drying, micronising.
*
Low Added Value.
Use on agricultural land as fertilizer, land reclemation for building, aplication in large infrastructural work, mine back filling, rehabilitation of un controolled land fills.

Dari matriks pemetaan pemanfaatan abu batubara, apa yang dapat kami berikan ?
Bila usaha anda bergerak di bidang konstruksi bangunan, maka abu dari kami dapat mereduksi cost produksi anda hampir 20% dari total cost anda.

Bila anda bergerak di industri semen PPC, maka abu dari kami akan mengurangi cost produksi anda dan menjadikan produk semen PPC anda menjadi lebih kuat dan bermutu tinggi.

Bila anda bergerak di industri beton ringan (light weight concrete) maka abu dari kami akan mereduksi cost produksi anda dan membuat mutu produk anda meningkat karena permukaan produk menjadi lebih halus dan kuat.

Bila anda bergerak di industri mortar atau semen siap saji maka produk abu dari kami dapat mereduksi cost produksi anda dan membuat mortar anda menajdi lebih bermutu dengan daya rekat yang kuat serta permukaan yang halus.

Bila anda bergerak di industri keramik berat seperti genteng, batako, casting, con block, batubata dll, maka produk abu dari kami adalah solusi untuk mereduksi cost produksi dan membuat mutu produk meningkat karena kekerasan dan kehalusan permukaan produk anda.

Berikut beberapa bentuk produk yang dihasilkan oleh Koperasi Rusamas Suralaya dengan menggunakan abu batubara PLTU Suralaya :
*
Conblok Merah
*
Conblock Abu-abu
*
Conblock Berlian
*
Conblock Segi enam
*
Bata Beton penganti bata merah
*
Batako


baca selanjutnya »»

Senin, 29 Juni 2009

Genesa Sulfur Pada Batubara




Sulfur adalah salah satu komponen dalam batubara, yang terdapat sebagai sulfur organik maupun anorganik. Umumnya komponen sulfur dalam batubara terdapat sebagai sulfur syngenetik yang erat hubungannya dengan proses fisika dan kimia selama proses penggambutan (Meyers, 1982) dan dapat juga sebagai sulfur epigenetik yang dapat diamati sebagai pirit pengisi cleat pada batubara akibat proses presipitasi kimia pada akhir proses pembatubaraan (Mackowsky, 1968).

Sulfur walaupun secara relatif kandungannya rendah, merupakan salah satu elemen penting pada batubara yang mempengaruhi kualitas. Terdapat berbagai cara terbentuknya sulfur dalam batubara, diantaranya adalah berasal dari pengaruh lapisan pengapit yang terendapkan dalam lingkungan laut (Horne et.al,1978), pengaruh air laut selama proses pengendapan tumbuhan, proses mikrobial dan perubahan pH (Casagrande et.al, 1987).

Di lingkungan laut, pH umumnya berkisar antara 4 – 8 (netral – basa) dan Eh cukup rendah, kecuali pada beberapa centimeter dari permukaan. Sulfat berlimpah & umumnya cukup banyak ion Fe yang hadir baik sebagai unsur terlarut dalam air laut atau penguraian dari bahan tumbuhan & mineral. Keadaan ini menyebabkan aktifitas bakteri sangat berperan untuk terbentuknya sulfur. Sedangkan lingkungan pengendapan batubara pada air tawar (lacustrine dan rawa) pH umumnya rendah. Sulfat terlarut juga rendah ( ± < 40 ppm), sehingga sulfur yang terbentuk sedikit karena aktifitas bakteri rendah. Dengan demikian jumlah sulfur yang dihasilkan tergantung pada kondisi pH, Eh, konsentrasi sulfat dan untuk pirit khususnya perlu kehadiran ion Fe dan aktivitas bakteri. Pada lingkungan pengendapan batubara yang dipengaruhi oleh endapan laut akan menghasilkan batubara dengan kadar sulfur yang tinggi, sedangkan batubara yang terendapkan di lingkungan darat / air tawar umumnya didominasi oleh sulfur organik dengan persentase pirit yang rendah.

Dari hasil penelitian mengenai pembentukan dan keberadaan sulfur pada batubara dan gambut, Casagrande (1987) membuat beberapa kesimpulan, yaitu :
a. Secara umum batubara bersulfur rendah (<1%) mengandung lebih banyak sulfur organik daripada piritik. Sebaliknya batubara dengan kandungan sulfur tinggi mengandung lebih banyak sulfur piritik daripada organik.
b. Batubara bersulfur tinggi biasanya berasosiasi dengan batuan penutup yang berasal dari lingkungan laut.
c. Kandungan sulfur pada batubara umumnya paling tinggi pada bagian roof dan pada bagian floor lapisan batubara.

Proses paling penting dalam pembentukan unsur dan senyawa sulfur adalah reaksi reduksi sulfat oleh aktivitas bakteri. Berikut adalah skema yang menunjukkan urutan proses pembentukan sulfur dalam batubara :




Gambar III.3 Skema pembentukan sulfur dalam batubara (modifikasi dari Suits & Arthur, 2000)

Batubara dengan kandungan abu dan sulfur yang rendah biasanya terendapkan pada lingkungan darat pada saat penggambutan, dengan lapisan penutup dan lapisan dibawahnya berupa sedimen klastik yang terendapkan pada lingkungan darat juga. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan abu dan sulfur yang tinggi, berasosiasi dengan sedimen yang terendapkan pada lingkungan payau atau laut (Cecil et.al, 1979).

Terdapat 3 (tiga) jenis sulfur yang terdapat dalam batubara, yaitu :


1. Sulfur Piritik

Pirit (dan Markasit) merupakan mineral sulfida yang paling umum dijumpai pada batubara. Kedua jenis mineral ini memiliki komposisi kimia yang sama (FeS2) tetapi berbeda pada sistem kristalnya. Pirit berbentuk isometrik sedangkan Markasit berbentuk orthorombik (Taylor G.H, et.al., 1998).

Pirit (FeS2) merupakan mineral yang memberikan kontribusi besar terhadap kandungan sulfur dalam batubara, atau lebih dikenal dengan sulfur piritik (Mackowsky, 1943 dalam Organic petrology, 1998). Berdasarkan genesanya, pirit pada batubara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Pirit Syngenetik, yaitu pirit yang terbentuk selama proses penggambutan (peatification). Pirit jenis ini biasanya berbentuk framboidal dengan butiran sangat halus dan tersebar dalam material pembentuk batubara (Demchuk, 1992 dalam international journal of coal geology, 1992).
2. Pirit Epigenetik, yaitu pirit yang terbentuk setelah proses pembatubaraan. Pirit jenis ini biasanya terendapkan dalam kekar, rekahan dan cleat pada batubara serta biasanya bersifat masif. (Mackowsky, 1968; Gluskoter, 1977; Frankie and Howe, 1987 dalam international journal of coal geology, 1992). Umumnya pirit jenis ini dapat diamati sebagai pirit pengisi cleat pada batubara.


Pirit dapat terbentuk sebagai hasil reduksi sulfur primer oleh organisme dan air tanah yang mengandung ion besi. Bentuk pirit hasil reduksi ini biasanya framboidal dengan sumber sulfur yang tereduksi kemungkinan terdapat dalam material yang terendapkan bersama batubara. Terbentuknya pirit epigenetik sangat berhubungan dengan frekuensi cleat / rekahan karena kation-kation yang terlarut (dalam hal ini ion Fe) akan terbawa ke dalam batubara oleh aliran air tanah melalui cleat tersebut dan selanjutnya bereaksi dengan sulfur yang telah tereduksi untuk kemudian membentuk pirit (Demchuk T.D, dalam International Journal of Coal Geology, 1992).

Pembentukan pirit epigenetik sangat dipengaruhi oleh keterdapatan sulfur primer yang telah tereduksi, ion besi dan tempat yang cocok bagi pembentukannya (Casagrande et.al,1987). Persamaan umum pembentukan pada pirit (Leventhal, 1983 and Berner, 1984 dalam Organic Petrology, 1998) adalah :

SO4 2- + 2CH2O - - - - - 2CHO3 - + H2S
3H2S + 2FeO.OH - - - - - 2FeS + S + 4H2O
FeS + S0 - - - - - FeS2

Sulfat di atas umumnya berasal dari sedimen laut dangkal yang selanjutnya akan direduksi oleh senyawa karbon organik menjadi hidrogen sulfida dengan reaksi sebagai berikut :
SO4 2- + 2CH2O - - - - - 2HCO3 + H2S

Hidrogen sulfida yang terbentuk selanjutnya dioksidasi oleh goethite (FeO.OH), atau hidrogen sulfida yang terbentuk dapat mereduksi ferric iron (FeIII) menjadi ferrous iron (FeII). Oksigen seringkali mampu menembus sedimen anaerob dan mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi unsur sulfur (S0). Proses oksidasi sulfur ini dapat juga berlangsung dengan media ferric iron (FeIII).

Berikut persamaan reaksinya :

3H2S +2 FeO.OH - - - - - 2 FeS + S + 4H2O
FeS + S0 - - - - - FeS2

Selain membentuk pirit, unsur sulfur tersebut dapat juga bereaksi dengan sulfida membentuk polisulfida (SSn), yang selanjutnya mungkin akan diperlukan untuk proses pembentukan pirit. Larutan polisulfida ini dapat bereaksi dengan FeS atau Fe3S4 untuk membentuk pirit. Proses terbentuknya sulfur piritik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pH, yaitu semakin tinggi harga pH maka akan mempercepat reaksi karena dalam suasana basa akan banyak ion besi yang terlepaskan. Disamping itu unsur sulfur atau polisulfida juga bisa bereaksi dengan komponen organik batubara membentuk senyawa sulfur organik.

Pirit framboidal berasosiasi dengan batuan penutup yang terendapkan pada lingkungan laut sampai payau. Gambut yang mengandung sulfur tinggi (dalam bentuk pirit framboidal) terbentuk pada lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh transgresi air laut atau payau, kecuali apabila terdapat dalam batuan sedimen yang cukup tebal dan terendapkan sebelum fase transgresi (Cohen A.D dalam Organic Petrology, Taylor G.H, 1998).

III.4.3 Sulfur Organik

Sulfur organik merupakan suatu elemen pada struktur makromolekul dalam batubara yang kehadirannya secara parsial dikondisikan oleh kandungan dari elemen yang berasal dari material tumbuhan asal. Dalam kondisi geokimia dan mikrobiologis spesifik, sulfur inorganik dapat terubah menjadi sulfur organik. (Wiser W.H, 2000).

Secara umum sebagian besar sulfur dalam batubara berupa sulfur syngenetik yang keterdapatan dan distribusinya dikontrol oleh kondisi fisika dan kimia selama proses pembentukan gambut. Sulfur organik dalam batubara dapat berasal dari material kayu dan pepohonan. Disamping itu sebagian sulfur juga mungkin terjadi dari sisa-sisa organisme yang hidup selama perkembangan gambut.

Sulfur organik dapat terakumulasi dari sejumlah material organik oleh proses penghancuran biokimia dan oksidasi. Namun secara umum, penghancuran biokimia merupakan proses yang paling penting dalam pembentukan sulfur organik, yang pembentukannya berjalan lebih lambat pada lingkungan yang basah atau jenuh air (A.C. Cook, 1982).

Sulfur yang bukan berasal dari material pembentuk batubara diduga mendominasi dalam menentukan kandungan sulfur total. Sulfur inorganik yang biasanya melimpah dalam lingkungan marin atau payau kemungkinan besar akan terubah membentuk hidrogen sulfida dan senyawa sulfat dalam kondisi dan proses geokimia. Reaksi yang terjadi adalah reduksi sulfat oleh material organik menjadi hidrogen sulfida (H2S). Reaksi reduksi ini dipicu oleh adanya bakteri desulfovibrio dan desulfotomaculum (Trudinger et.al, dalam Meyers, 1982).

Unsur sulfur, hidrogen sulfida dan ion sulfida dapat bereaksi dengan unsur atau molekul organik dari gambut menjadi sulfur organik. Unsur sulfur (S0) kemungkinan muncul dari proses oksidasi hidrogen sulfida yang terkena kontak dengan oksigen terlarut dalam kisi – kisi air, di samping itu S0 juga bisa muncul karena adanya aktivitas bakteri. Unsur sulfur (S0) dapat bereaksi dengan asam humik yang terbentuk selama proses penggambutan (Meyers,1982).

Berdasarkan eksperimen dapat diketahui bahwa H2S juga dapat bereaksi dengan asam humik yang terbentuk selama proses penggambutan. Jenis interaksi antara H2S dengan asam humik inilah yang mempunyai peranan paling penting dalam menentukan kandungan sulfur organik dalam batubara (Meyers, 1982). Disamping itu kandungan sulfur organik yang tinggi hanya akan berasosiasi dengan lingkungan rawa gambut yang minim suplai Fe (Gransh & Postuma, 1974 ; Bein et.al, 1990 ; Zaback & Pratt dalam Suits and Arthur, 2000).

III.4.4 Sulfur Sulfat

Sulfat dalam batubara umumnya ditemui dalam bentuk sulfat besi, kalsium dan barium. Kandungan sulfat tersebut biasanya rendah sekali atau tidak ada kecuali jika batubara telah terlapukkan dan beberapa mineral pirit teroksidasi akan menjadi sulfat. (Meyers, 1982 and Kasrai et.al, 1996).

Sulfur sulfat juga dapat berasal dari reaksi garam laut atau air payau yang mengisi lapisan dasar yang jaraknya tidak jauh dan berada di atas atau di bawah lapisan batubara. Pada umumnya kandungan sulfur organik lebih tinggi pada bagian bawah lapisan, sedangkan kandungan sulfur piritik dan sulfat akan tinggi pada bagian atas dan bagian bawah lapisan batubara.



By : Aditya Resmawan






baca selanjutnya »»

Kamis, 18 Juni 2009

Beda Royalti dan DHPB pertambangan

Royalty adalah pungutan yang merupakan hak negara atas bahan tambang yang diambil dari perut bumi. Secara filosofis pembayaran royalty menandakan adanya perpindahan kepemilikan bahan tambang, dari pemerintah ke perusahaan. Berdasarkan PP Nomor 45 Tahun 2003, dasar penghitungan royalty tergantung pada mutu bahan tambang.

Seperti pada batubara, dasar penghitungan royalty sangat tergantung pada mutu batubara yang ditambang. Kalau batubara kalorinya tinggi royalty-nya 7%, kalau kalorinya menengah 5%, dan untuk batubara kalori rendah royalty-nya hanya 3%. “Jadi jangan dikacaukan antara royalty dengan DHPB,” ujar Bambang.

Sedangkan untuk DHPB (Dana Hasil Penjualan Batubara), adalah dana yang dipungut sebagai kewajiban perusahaan atas pemerintah. Dasar penghitungan DHPB juga tidak tergantung pada mutu batubara, dan seragam semuanya 13,5% dari keseluruhan volume batubara yang dijual. “Batubaranya kalori tinggi, rendah, menengah, tetap saja royalty-nya 13,5%,” jelas Bambang. baca selanjutnya »»

Senin, 15 Juni 2009

Briket Batubara dan Manfaatnya

Briket batubara adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran tertentu, yang tersusun dari butiran batubara halus yang telah mengalami proses pemampatan dengan daya tekan tertentu, agar bahan bakar tersebut lebih mudah ditangani dan menghasilkan nilai tambah dalam pemanfaatannya

Ada 4 dasar pemikiran mengapa briket perlu mendapat perhatian yang serius dalam pengembangan diversifikasi energi di Indonesia yaitu :
• Makin menipisnya cadangan minyak bumi;
• Potensi dan kualitas batubaranya cukup tersedia dan dapat menghasilkan briket yang mempunyai persyaratan;
• Tersedianya teknologi sederhana yang memungkinkan batubara dapat dibentuk menjadi briket;
• Dapat menggantikan penggunaan kayu bakar yang sangat meningkat konsumsinya dan berpotensi merusak ekologi hutan.

Manfaat Briket batubara
• Pemasok Bahan Bakar Yang Potensial dan
Dapat Dihandalkan Untuk Rumah Tangga dan Industri Kecil
• Sumberdaya Energi Yang Mampu Menyuplai Dalam Jangka Panjang
• Pengganti BBM/Kayu Bakar Dalam Industri Kecil dan Rumah Tangga
• Merupakan tempat penyerapan tenaga kerja yang cukup berarti baik di pabrik briketnya, distributor, industri tungku, dan mesin briket dsbnya.
• Merupakan bahan bakar yang harganya terjangkau bagi masyarakat pada daerah-daerah terpencil.
• Memberikan sumber pendapatan kepada penyuplai bahan baku briket seperti batubara, tanah liat, kapur, serbuk biomas, dsbnya.
• Sebagai wadah pengalihan teknologi dan keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia baik langsung maupun tidak langsung.
• Menghasilkan briket batubara yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan UKM dalam kebutuhan energinya yang akan terus meningkat setiap tahunnya


tekmira.esdm.go.id
baca selanjutnya »»

Apa itu batubara ?




Batu bara adalah bahan bakar fosil. Batu bara dapat terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batu bara. baca selanjutnya »»