Google

Memuat...

Rabu, 12 Agustus 2009

Sehatkah makanan kaleng?

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Makanan KalengMakanan yang dikalengkan (“canned food”) yang lebih kita kenal sebagai “makanan kaleng” saat ini telah banyak dihasilkan dan dikonsumsi, baik macam maupun jumlahnya. Meskipun demikian, ternyata hanya sebagian kecil saja dari masyarakat modern ini (jika dapat dikatakan modern) yang mengetahui apa sebenarnya makanan yang dikalengkan itu.

Â

Menurut batasannya, makanan yang dikalengkan adalah makanan yang diawetkan melalui proses sterilisasi komersial dan dipak (dimasukkan dalam tempat) secara hermetis. Yang dimaksud dengan sterilisasi komersial ialah sterilisasi (pembebashamaan) yang hanya menghancurkan jasad renik penyebab penyakit dan pembusuk saja, sedang spora (bentuk non aktif) jasad renik masih ada meskipun tidak akan tumbuh selama kondisi penyimpanan baik.

Â

Sedang yang dimaksud dengan pengepakan secara hermetis ialah, pengepakan yang kedap udara, air maupun jasad renik. Wadah yang digunakan tidak harus berupa kaleng logam, tetapi dapat berupa botol kaca, kantong aluminium, bahkan wadah dari plastic. Jadi yang disebut makanan yang dikalengkan bukan yang kebetulan ditempatkan dalam kaleng, tetapi makanan yang melalui dua proses seperti telah disebutkan di atas.

Â

Tanda Kerusakan

Tanda-tanda kerusakan pada makanan yang dikalengkan ada yang dapat kita ketahui dari keadaan wadahnya saja, tetapi ada juga yang baru kita ketahui apabila kita membukanya.



Â

Pada wadah kaleng logam (paling banyak digunakan), tanda kerusakan yang dapat kita amati dari luar yaitu : bocor, cembung (swell), flipper, dan springer.

Â

Pada flipper, bentuk kaleng kelihatan normal, tetapi jika salah satu ujungnya ditekan maka ujung yang lain akan cembung. Sedangkan pada springer, salah satu ujung kaleng cembung, ujung yang lain normal. Jika ujung yang cembung ditekan, maka ujung yang semula normal akan menjadi cembung.

Â

Kecembungan (swell) dapat dibedakan menjadi “hard swell” yang dengan mudah dapat kita lihat, dan “soft well” yang tidak terlalu kelihatan. Kaleng-kaleng yang cembung, flipper, dan springer disebabkan oleh jasad renik dari golongan bakteri yang membentuk gas, misalnya dari jenis Clostridium. Bakteri ini dapat hidup di dalam makanan yang dikalengkan karena dia tidak membutuhkan oksigen untuk hidupnya, ini dapat terjadi jika proses pengalengan tidak sempurna.

Â

Kaleng yang penyok-penyok kemungkinan besar telah mengalami kebocoran, oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mengkonsumsi isinya.

Â

Apabila kita membuka makanan yang dikalengkan, dengan wadah apa saja, dan kita menemukan ketidakwajaran pada bau, warna, dan rasa, hal itu dapat merupakan petunjuk bahwa makanan telah rusak. “Flat Sour” merupakan salah satu petunjuk kerusakan, yaitu makanan menjadi sangat asam, disebabkan oleh kegiatan bakteri yang membentuk asam.

Â

Perubahan warna yang sering dijumpai pada makanan dengan wadah kaleng logam ialah, makanan menjadi hitam. Kerusakan ini disebabkan karena lapisan pelindung (enamel) pada bagian dalam kaleng tidak bagus atau rusak sehingga terjadi reaksi antara Besi (Fe) dan kaleng dengan sulfur (S) dari makanan membentuk FeS yang berwarna hitam.

Â

Makanan yang dikalnegkan yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti disebutkan di atas, juga yang telah lewat batas waktu kadaluarsanya lebih baik tidak kita konsumsi karena dapat membahayakan kesehatan. Akibat paling berbahaya jika kita memakannya adalah keracunan “botulinin”. Racun tersebut dihasilkan oleh jasad renik dari golongan bakteri yang bernama Clostridium botulinum, dan jika termakan oleh kita dapat menyebabkan kematian yang didahului dengan kejang-kejang dan sesak napas.

Â

Akibat lain yang dapat timbul ialah keracunan ringan atau menderita sakit karena jasad renik yang termakan.

Â

Menurut peraturan yang benar mengenai makanan, pada label makanan yang dikalengkan antara lain harus dicantumkan nama pabrik pembuat atau nama perusahaan pengedar serta batas waktu kadaluarsanya. Akan tetapi di Negara kita peraturan itu baru diterapkan oleh sebagian kecil pabrik atau perusahaan pengedar, karena masih kurang-ketatnya pengawasan makanan dengan tindakan-tindakan yang nyata dan kurangnya kesadaran akan pentingnya hal ini. Ini sangat perlu mendapat perhatian, karena menyangkut keselamatan orang banyak.

Â

Dengan mengetahui serba sedikit tentang apa dan bagaimanan makanan yang dikalengkan itu, maka kita dapat mengkonsumsinya dengan sehat dan aman. Selain tidak mengkonsumsi makanan yang dikalengkan yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan kita juga harus hati-hati terhadap makanan yang dikalengkan yang tidak kita ketahui pabrik pembuat atau perusahaan pengedarnya, dan batas waktu kadaluarsanya.


http://pusat_kesehatan.blog.plasa.com/

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar