Selasa, 11 Agustus 2009

Protein Yang Bertanggungjawab Terhadap Kanker

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Sel-sel yang menyusun organ, hidup dan berkembang dalam sebuah system yang terorganisir rapi. Masing-masing sel tersebut hidup berdampingan satu dengan yang lain dengan kerjasama yang saling menguntungkan. Akan tetapi, tiap-tiap sel juga mempunyai waktu yang terbatas. Ada dua hal yang dapat menyebabkan sel mati, yaitu kecelakaan dan alamiah. Pada saat tubuh kita terluka, ratusan bahkan ribuan sel mati. Proses alamiah dalam tubuh seperti perkembangan embrio di dalam rahim ibu atau mempertahankan diri dari serangan virus (sistem kekebalan) juga menghasilkan ribuan sel mati. Sel mati (anoikis) berarti sel tersebut terpisah dari induk semangnya atau matriks yang umumnya tersusun oleh sel-sel epitel (epithelium cells). Namun, ada sel-sel tertentu yang tetap hidup dan berkembang biak di luar komunitasnya, yaitu sel kanker.

Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan perkembangan dan penyebaran sel-sel yang tidak terkendali. Sel-sel abnormal tersebut dapat ditemukan pada berbagai organ misalnya payudara dan paru-paru menghasilkan kanker dengan sifat-sifat yang khas untuk masing-masing organ tersebut. Penyebaran yang tidak terkendali (metastatis) merupakan hal tersulit dalam mengidentifikasi dan mengobati penyakit ini. Banyak ilmuwan menaruh perhatian yang besar terhadap masalah ini, kenapa sel-sel kanker bisa selamat saat mereka terpisah dari “rumah” mereka? Zat-zat kimia atau senyawa apa yang mendukung perkembangbiakan sel-sel kanker di luar “rumah” mereka? Senyawa apa pula yang bertanggung jawab terhadap metastatis?



Menggunakan teknik unbiased genetic screening, beberapa ilmuwan dari Belanda berhasil mengidentifikasikan jenis protein yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Hasil temuan mereka dipublikasikan di majalah ilmiah terkemuka Nature pada tanggal 26 Agustus, 2004. Mereka memasukkan beberapa potongan DNA, material pembawa sifat-sifat genetis, ke dalam tubuh tikus. Sel-sel normal langsung mati pada saat terpisah dari sel-sel epitel. Akan tetapi, ada kelompok sel yang tetap hidup dan berkembang biak dengan pesat di luar “rumah” mereka. Sel-sel tersebut mengandung DNA yang mengkode protein TrkB, yaitu protein penting yang mempunyai peran dalam perkembangan sel-sel syaraf seperti pada sel-sel mata.

Protein TrkB tidak bekerja sendirian dalam mendukung pertumbuhan sel-sel kanker. Senyawa BDFN yang berasal dari otak (brain-derived neurotrophic factor) dan protein kinase mengaktifkan kerja protein TrkB dalam menyelamatkan sel-sel kanker dari proses kematiannya saat pergi menjauhi sel epitel dan mengembara di jaringan-jaringan baru. Oleh karena itu, interaksi senyawa-senyawa tersebut di atas berperan dalam mematikan anoikis, memacu proses penyerangan sel-sel kanker ke jaringan-jaringan sehat dan akhirnya memperbanyak sel-sel kanker tersebut di jaringan yang baru.

Penemuan ini tidak hanya membuka tabir gelap mengenai mekanisme penyebab penyakit kanker tapi juga membuka kajian baru untuk mendisain obat penyakit ini secara lebih spesifik. Jika komposisi kimia atau struktur protein TrkB dapat diketahui, bukanlah hal yang sulit bagi para ahli farmasi untuk mendisain senyawa kimia tertentu yang dapat memblok kerja protein ini secara efektif dan efisien. Akan tetapi, hipotesis ini masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut. Para ahli masih memerlukan bukti-bukti ilmiah bahwa sel kanker tidak mempunyai mekanisme lain dalam menyelamatkan diri mereka dari anoikis selain dengan bantuan protein TrkB.


www.kamusilmiah.com

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar