Google

Memuat...

Jumat, 03 Juli 2009

Alergi makanan pada anak

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.



Apa yang Anda lakukan saat si kecil terserang alergi? Segera menghentikan makanan pemicu? Atau justru meneruskan makanan tersebut dengan harapan anak akan menjadi kebal bila terus menerus diberi makanan yang membuatnya alergi? Dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K)., dari bagian Ilmu Kesehatan Anak Departemen Alergi dan Imunologi, FKUI-RSCM, Jakarta, membeberkan segala hal tentang alergi. Semoga artikel ini dapat menjawab semua pertanyaan yang mengganjal soal alergi.

Apa sebenarnya penyebab alergi makanan?
Alergi makanan terjadi karena ada suatu reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang dan menimbulkan gejala yang merugikan tubuh. Umumnya, sistem kekebalan tubuh menyerang bakteri, virus, atau benda asing yang berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Alergi makanan terjadi karena sistem kekebalan tubuh salah mengartikan komponen makanan tertentu, (biasanya protein), sehingga bahan makanan tersebut dianggap sebagai zat berbahaya yang kemudian diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Nah, ini yang dimaksud dengan reaksi menyimpang.

Siapa saja yang bisa menderita alergi?
Alergi makanan terjadi pada anak pengidap alergi maupun yang memang mempunyai bakat alergi (atopik). Alergi makanan dapat dialami pada tahun-tahun pertama kehidupan anak. Hal ini terkait dengan saluran percernaan anak yang belum sempurna. Semakin matang saluran pencernaannya, anak akan bisa lebih toleran menerima aneka jenis makanan. Biasanya alergi makanan setelah memasuki usia sekolah dapat diatasi dan kebanyakan menghilang dengan sendirinya. Namun, ada juga yang berlanjut hingga dewasa terutama mereka yang memang punya riwayat pengidap alergi atau mempunyai bakat alergi.

Makanan apa saja yang bisa menjadi pencetus alergi?


Sebetulnya, semua makanan dapat menyebabkan alergi. Tetapi, antara satu makanan dengan makanan lain mempunyai derajat alergenitas (kekuatan menimbulkan alergi) yang berbeda. Contoh, udang bersifat alergenik dibandingkan buah-buahan. Tetapi tiap orang mempunyai intensitas gejala yang berbeda. Misal, pada seorang anak, udang hanya menyebabkan gatal-gatal ringan saja. Namun pada anak lain akan menyebabnya sampai sesak napas.

Makanan apa yang paling sering menjadi pemicu alergi?
* Susu sapi
Reaksinya bisa berupa diare atau muntah. Bayi (yang karena suatu hal tidak bisa menyusu ASI) dan menderita alergi terhadap susu sapi, tidak boleh mendapat susu formula biasa. Umumnya bagi mereka, dokter akan menyarankan susu formula khusus yang berasal dari susu sapi namun sudah diproses sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi. Biasanya, alergi susu sapi ini akan menetap hingga usia akhir anak-anak. Umumnya penderita tak hanya alergi pada susu sapi, tapi juga produk turunannya, seperti es krim, keju, dan sebagainya. Namun bukan berarti anak lantas tak boleh minum susu, sebagai pengganti susu sapi masih ada susu dari bahan kedelai. Jenis kacang-kacangan ini mempunyai sifat alergenitas yang rendah, apalagi setelah mengalami proses pemanasan.

* Seafood (makanan laut)
Contoh, ikan laut, udang kecil, udang besar (lobster), kepiting, tiram, tuna, dan lain-lain. Gejala yang sering timbul ialah urtikaria atau gatal-gatal di tubuh.

* Telur
Baik putih telur maupun kuning telurnya. Reaksi alerginya lebih pada gatal-gatal di tubuh. Bisa berupa kulit kemerahan ataupun tampak bengkak-bengkak.

* Kacang-kacangan
Di Amerika kasus alergi terhadap jenis kacang-kacangan cukup tinggi. Beberapa kasus bahkan sampai menimbulkan kematian akibat syok anafilaksis (kondisi di mana tenggorokan membengkak sehingga saluran napas tertutup dan tekanan darah merosot drastis). Hal ini sangat jarang ditemui di Indonesia. Jenis kacang-kacangan yang dapat menimbulkan alergi adalah kacang tanah, kacang mete, dan sejenisnya. Gejalanya biasanya reaksi gatal-gatal di tenggorokan.

Bisakah anak mengalami alergi sayur atau buah-buahan?
Bisa. Biasanya alergi terhadap sayuran ditemui pada anak-anak yang memang mempunyai bakat alergi terhadap serbuk tanaman. Reaksi alergi terhadap sayuran biasanya berupa rasa gatal-gatal di mulut. Sebetulnya, dengan memasak sayuran secara matang dan benar sifat alergennya bisa hilang dan tidak menimbulkan alergi pada anak. Anak yang alergi terhadap sayuran umumnya juga alergi terhadap kacang-kacangan. Untuk mengetahui alergi biasanya yang dilakukan tes alergen yaitu asparagus, selada, kembang kol, bayam, tomat, dan brokoli. Sedangkan buah-buahan yang menyebabkan alergi biasanya apel, peach, cherry, pir, strawberry, nangka, anggur, duku, pisang, jeruk, dan sebagainya. Reaksinya berupa kemerahan di kulit.

Apakah masih ada makanan yang kerap membuat anak alergi?
Aneka snack juga bisa menyebabkan alergi pada anak. Ini berkaitan dengan proses pembuatan makanan itu sendiri yang menggunakan bahan-bahan kimia atau tambahan (zat aditif). Seperti bahan pengawet, bahan pewarna, pemutih, bahan pelapis atau pengilat, pengatur pH, ragi makanan, pelarut, dan bahan pemanis, rempah-rempah buatan, dan sebagainya. Reaksinya berupa gatal dan rasa kering di tenggorokan. Dalam daftar tes kulit seperti yang dilakukan di beberapa rumah sakit, terdapat pula beberapa zat alergen makanan yang kemungkinan dicurigai seperti cokelat, tepung terigu, maizena, dan soya.

Bagaimana mencegah alergi pada anak?
Pencegahan alergi makanan pada anak dapat dimulai sedini mungkin dengan pemberian ASI eksklusif. Pada bayi yang berbakat alergi, sebaiknya ibu yang menyusui menghindari makanan yang bisa berakibat alergi pada bayinya. Sejak usia 6 bulan perkenalkan bayi pada jenis makanan secara bertahap dan pilih yang tidak/jarang menimbulkan alergi seperti beras, wortel, pir, prune, dan alpukat. Kemudian perkenalkan makanan yang bisa menimbulkan alergi namun masih bisa ditoleransi seperti gandum, havermut, daging, kambing, ayam, brokoli, kol, kentang, bayam, minyak jagung, dan pisang.

Di usia 9 bulan, bayi dapat mulai diberikan makanan yang kemungkinan mengakibatkan alergi seperti kuning telur (harus dimasak matang), kacang-kacangan (kedelai dan kacang hijau), dan ikan air tawar. Baru pada usia 12 bulan, si kecil mulai dikenalkan pada makanan yang kemungkinan besar menimbulkan alergi seperti makanan laut, putih telur, dan kacang tanah.

Apa yang harus dilakukan saat terjadi reaksi alergi makanan?
Kalau anak sedang mengonsumsi makanan yang dicurigai sebagai pencetus alerginya (misal, udang, ikan, kepiting, dan lainnnya), minta ia untuk tidak memakannya lagi. Reaksi alergi -meski yang tampak ringan sekalipun, seperti hanya gatal atau bibir tampak kemerahan- tetap perlu diwaspadai karena bila tetap diteruskan mengonsumsinya justru dapat berakibat fatal. Konsultasikan kondisi tersebut pada dokter anak. Umumnya dokter akan meresepkan obat-obatan antialergi sesuai dengan reaksinya. Kalau reaksinya gatal-gatal maka akan diobati dengan standar pengobatan eksimnya. Obat yang paling banyak digunakan adalah golongan antihistamin. Jika reaksinya begitu berat seperti anafilaksis, paramedis tentu akan menyuntikkan obat epinefrin dan steroid untuk menghentikan peradangannya.

Jika anak sudah menderita alergi, apakah dia bisa menghindarinya?
Bisa. Yakni dengan menghindari makanan yang dianggap menjadi pencetus alergi. Untuk mengetahuinya perlu kejelian dan ketelatenan orangtua dalam melakukan pengamatan terhadap keseharian anak. Selain itu, untuk memastikannya perlu bantuan dan konsultasi dokter. Jadi, orangtua tidak main asal pantang makanan saja karena bisa mengganggu pertumbuhan si anak.

Bagaimana reaksi yang tampak kala terjadi alergi makanan?
Reaksi tubuh saat terjadi alergi makanan bisa cepat, bisa juga lambat. Pada reaksi alergi yang cepat, begitu makanan masuk ke dalam tubuh (dan belum sempat diserap), tubuh sudah menunjukkan reaksi, seperti gatal-gatal di mulut dan tenggorokan, atau pada kasus yang parah terjadi bengkak pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan penderita sesak napas. Pada reaksi yang lambat, makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan sempat diserap dulu oleh tubuh, baru belakangan muncul reaksi, bisa berupa diare (adakalanya disertai darah karena terjadi peradangan usus yang berat), muntah-muntah, gatal, dan kemerahan (di organ kulit), pilek (di organ hidung), mata menjadi merah dan gatal (di organ mata).

(Dedeh Kurniasih)

kompas.com


.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar