Rabu, 09 Februari 2011

Pikir Ulang Beli Produk Kemasan Sachet

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Tips kurangi sampah



Jika membeli produk seperti shampoo, sabun cuci, pewangi cucian hingga gel rambut, kemasan dan ukuran produk macam apakah yang Anda beli? Jika Anda termasuk pecinta produk kemasan sachet atau kemasan kecil, mungkin sekaranglah waktunya berpikir mempertimbangkan pilihan Anda.

Mengapa demikian? "Coba sekarang pikir kalau setiap ibu-ibu rumah tangga memakai sabun cuci kemasan kecil untuk dipakai sehari, berapa sampah yang terakumulasi dan terbuang?" kata Koordinator Kedai Daur Ulang Pak Salam yang berlokasi di Mampang, Jakarta Selatan, Nursalam saat ditemui Kompas.com akhir pekan lalu.

"Lalu kan sekarang ada keluarga tuh yang kalau beli shampo sachet-an. Itu kalau dalam setiap waktu yang sama ada 10.000 orang yang pakai bersamaan. Kan ada 10.000 plastik sachet. Kalau ditotal dalam sebulan, ada banyak sekali itu," lanjut Nursalam.

Menurut Nursalam, pilihan produk berkemasan sachet perlu dipikir ulang. Masalahnya, dengan bahan plastik sebagai kemasan yang dibuang sekali pakai, dampak lingkungan yang ditimbulkan produk ini sangat besar. Plastik, seperti yang telah diketahui termasuk sampah non degradable.

"Ini bukannya anti produk sachet ya. Kecuali kalau emergency, ya mau bagaimana. Tapi


kalau secara terus menerus, itu akan besar dampaknya," papar Nursalam yang juga aktivis lingkungan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Ia telah mengelola kedai daur ulangnya sejak tahun 1995.

Nursalam mengungkapkan, lebih baik membeli produk kemasan besar sekaligus. "Produk kemasan besar itu kan harganya kalau dihitung-hitung juga lebih murah kan. Lalu kalau misalnya beli sabun cuci yang ada wadahnya itu, kan akan mengurangi sampah," katanya.

Hal-hal sepele seperti pemilihan kemasan produk menurut Nursalam perlu diperhatikan agar jumlah sampah bisa dikurangi. Nursalam mengungkapkan, salah satu penyebab menumpuknya sampah adalah karena gaya hidup lingkungan rumah tangga yang kurang ramah lingkungan.

Yunanto Wiji Utomo

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar