Google

Memuat...

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ikan Asin Picu Kanker Nasofaring

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Konsumsi ikan asin dan makanan berpengawet secara terus-menerus dalam jumlah yang banyak bisa memicu kanker nasofaring.

JIKA Anda merasa telinga seringkali berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit sehingga pendengaran jadi berkurang, waspadailah. Bisa jadi itu merupakan gejala dini dari kanker nasofaring. Anehnya, kanker yang diklaim sebagai salah satu kanker bernomor urut empat terganas setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker kulit, ini diduga disebabkan oleh konsumsi ikan asin dan makanan berpengawet.

Dr Budianto Komari, Sp THT, spesialis onkologi THT (telinga-hidung-tenggorok), mengatakan, konsumsi ikan asin secara terus-menerus dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama, bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker nasofaring. Budianto menjelaskan, kanker nasofaring sendiri merupakan kanker yang

berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut.

“Karena letaknya yang berdekatan, membuat penyebaran virusnya menjadi mudah terjadi. Misalnya, virus ini dapat menyebar pada bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak,” kata Budianto menerangkan pada penyuluhan kanker bagi masyarakat di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Selasa, (10/3).

Menurut Budianto, penderita harus mengenali gejala dini dari penyakit tersebut. Sebab, lanjut dia, dengan mengetahui gejala dini dari kanker nasofaring, kemungkinan besar seseorang untuk sembuh akan terbuka lebar dibandingkan dengan penderita yang sudah memasuki gejala lanjut. Menurutnya, gejala dini kanker nasofaring bisa berupa mimisan pada hidung yang terus berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus, dan pilek pada satu sisi saja.

“Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara memeriksakan diri ke dokter bila mengalami keluhan pada telinga dan hidung. Penderita harus sering-sering memeriksakan THT-nya,” ujar Budianto.

Untuk gejala lanjut, dapat diketahui dari kelenjar getah bening leher yang membesar, nyeri dan sakit kepala, pada mata terjadi penglihatan ganda, juling ,dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena virus tersebut.

Secara umum, gejala dari kanker nasofaring ini ada empat, yakni gejala dapat dirasakan pada bagian hidung, telinga, mata, dan saraf, terakhir adalah pada bagian penyebaran di leher.

Kanker nasofaring sendiri hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Namun, penyembuhan atau pengobatan kanker nasofaring dapat dilakukan dengan menjalani radioterapi dan kemoterapi. Dalam menjalani pengobatan, penderita bisa membutuhkan waktu kurang lebih lima tahun. Namun, itu juga si pasien harus terus-menerus memeriksakannya kembali.

“Biasanya usia yang masih dapat diobati jika terkena kanker nasofaring yakni usia 25 tahun hingga 60 tahun. Kalau sudah memasuki usia 70 tahun, kasihan penderitanya. Dia tidak akan sanggup melakukan pengobatan,” ujar Budianto.

“Meski pasien sudah merasa sembuh, dikhawatirkan sisa-sisa masih tertinggal di dalam sehingga dibutuhkan pembedahan. Namun, jika pasien merasa yakin sudah sembuh dan tidak perlu dilakukan pembedahan, hal tersebut juga diperbolehkan,” kata Budianto lagi.

Meski demikian, menurutnya, pencegahan dapat dilakukan dengan cara menciptakan pola hidup dan lingkungan yang sehat, mengurangi konsumsi makan yang memakai pengawet, dan menghindari polusi udara.

Bagi pasien yang telanjur mengidap kanker nasofaring dapat melakukan terapi maupun penyinaran, tergantung pada stadiumnya. “Untuk stadium satu diberikan terapi radiasi, sedangkan untuk stadium lebih tinggi di perlukan kombinasi radiasi dan kemoterapi,” ujar Budianto.

http://rayatdjafar.com

keturunan cina rentan kanker nasofaring

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar