Google

Memuat...

Minggu, 04 Oktober 2009

Solusi untuk Anak Obesitas

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Obesitas yang terjadi pada anak-anak saat ini telah menjadi momok bagi masyarakat. Diperkirakan pada tahun 2020, anak yang menderita obesitas pada usia 7 tahun sampai 15 tahun mencapai 65 persen. Jangan biarkan anak kelebihan bobot segera cari solusinya.

Bukan berarti anak langsung dikurangi makannya, mengajaknya untuk lebih banyak bergerak dan melakukan aktivitas fisik menjadi lebih efektif ketimbang hanya memotong jatah makannya. Jangan putus asa menangani anak obesitas karena itu demi masa depan kesehatannya.

Banyak hal yang turut mempengaruhi seorang anak tumbuh menjadi obesitas. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah kesalahan dalam memilih makanan untuk konsumsi anak-anak karena mengandung lemak trans yang tinggi, kurangnya melakukan aktivitas fisik, orangtua yang memiliki berat badan berlebih serta adanya faktor genetik yang mempengaruhi.

“Anak dikatakan obesitas jika berat badannya 40 persen lebih tinggi dari

berat badan ideal dan overweight jika berat badannya lebih tinggi 20 persen dari berat badan idealnya,” ujar Dr. Angela C Ardhianie, dalam acara Mom’s Club Childhood Obesity, di Miniapolis, Plaza Indonesia, Jumat (2/10/2009).

Angela menambahkan jika seorang anak lahir dengan berat badan di atas rata-rata, maka persentase menjadi obesitas adalah sebesar 45 persen atau bahkan bisa juga mengalami obesitas sampai dewasa. Tergantung bagaimana penanganannya sejak masih berusia anak-anak.

"Jika jarang aktivitas fisik dan makan tidak terkontrol, misalnya hanya nonton televisi atau main game saja bisa jadi seorang anak mengalami obesitas, meskipun saat lahir berat badannya tidak berlebih,” ujar dokter yang berpraktek di Healthy Choice Wellness Center ini.

Selain aktivitas fisik, faktor makanan sangat berpengaruh. Saat ini masyarakat cenderung ingin segala sesuatu yang bersifat praktis, sehingga sering kali mengonsumsi makanan cepat saji dan yang instan. Makanan tersebut biasanya mengandung lemak trans (trans fat) yang tinggi dan itu bisa menyebabkan seseorang mengalami obesitas.

Lemak trans selain menyebabkan obesitas juga bisa mengikat mineral yang dikonsumsi oleh si anak, sehingga terkadang anak yang obesitas mengalami kekurangan zat mineral dalam tubuhnya.

”Padahal asupan lemak bagi tubuh per harinya hanya 3 gram saja, sedangkan makanan siap saji per porsi mengandung 3 gram lemak,” ungkap dokter lulusan Universitas Kristen Indonesia tahun 1998 ini.

Obesitas bisa menimbulkan masalah bagi si anak seperti menurunkan kepercayaan diri, memicu diabetes, masalah liver, kelainan pernapasan dan gangguan tidur serta kemungkinan memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah yang tinggi. Sedangkan masalah sosial yang ditimbulkan adalah menurunkan kepercayaan diri, jadi bahan ejekan, depresi serta bisa memicu masalah anorexia dan bulimia.

Angela memberikan solusi yang bisa dilakukan untuk menangani anak yang mengalami obesitas, yaitu:
Sesuaikan makanan anak dengan piramida makanan yang dianjurkan.
Pastikan anak sarapan dengan benar serta usahakan setiap sarapan mengandung buah dan akan lebih bagus jika dijus.
Variasikan jenis makanan.
Biasakan anak mengonsumsi 5 porsi buah-buahan dan sayuran setiap harinya.
Sebisa mungkin hindari makanan yang digoreng, lebih baik makanan panggang atau rebus.
Batasi penggunaan gula.
Perhatikan porsi cemilan untuk anak, kalau bisa mengganti makanan cemilan anak dengan buah.
Biasakan anak untuk berolahraga atau bisa juga dengan rajin berjalan kaki.
Cermat dalam membaca label makanan, karena banyak produsen makanan yang menulis bebas lemak serta menulisnya dengan istilah lain yang tidak dimengerti oleh masyarakat awam.
(ver/ir)

Detik.com


.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar