Google

Memuat...

Senin, 08 Juni 2009

Usaha yang diridoi Allah

Share Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

Usaha yang diridoi Allah

Ditulis oleh KH. Abdullah Gymnastiyar
Jiwa wirausaha atau entrepreneurship adalah salah satu kekuatan yang dikembangkan oleh Rasulullah. Entrepreneur secara sederhana adalah kemampuan kita untuk mengkreasi atau mendesain manfaat dari apa pun yang ada dalam diri dan lingkungannya. Apa pun yang dia lihat dapat dia kemas menjadi sesuatu yang bermanfaat. Seorang entrepreneur tidak pernah mengenal situasi rumit kecuali situasi itu bisa diatasi dan menghasilkan manfaat.

Seseorang yang berjiwa entrepreneur memandang situasi bangsa seperti ini sebagai tantangan yang paling menarik untuk diatasi, diselesaikan dengan karya yang nyata dan bermanfaat. Mengutuk itu paling mudah, tetapi menjadikan situasi sulit menjadi kondisi menantang yang akan membangkitkan potensi kita, itulah yang paling baik untuk dilakukan. Jika hal itu dilakukannya, maka itulah ciri-ciri orang yang akan gemilang.

Oleh karena itu, bangsa yang carut-marut dan hiruk-pikuk begini membutuhkan umat yang memiliki jiwa entrepreneur. Sayangnya, kita sering kalah oleh diri kita sendiri. Belum memulai sesuatu, kita sudah menyerah duluan, tidak ada motivasi dalam diri untuk bangkit dari keterpurukan.

Demikian jelas Nabi telah memberikan kepada kita umatnya tentang bagaimana cara berbisnis yang benar. Untuk menerapkannya di perusahaan agar beroleh kesuksesan serupa, kuncinya sederhana, di samping manajemen yang profesional, faktor yang utama adalah usahakan suasana dan seluruh aturan serta segala aktivitas perusahaan sesuai dengan aturan yang diridai Allah. Berjuanglah sekuat tenaga untuk menjadikan perusahaan kita sebagai ladang untuk membuat diri, keluarga, karyawan plus keluarga karyawan, rekan usaha kita agar menjadi semakin dekat dengan Allah.

Kajilah sistem usaha agar disukai Allah (sesuai dengan syariat), juga pembinaan karyawannya tidak hanya dididik agar terampil dan profesional dalam bidang pekerjaannya saja tetapi sangat diutamakan agar seluruh karyawan dan keluarganya terbina keimanan dan ketaatannya pada Allah. Caranya dengan pemberian ilmu agama Islam yang sistematis dan berkesinambungan, plus kesempatan dan fasilitas beribadah yang layak.

Kepada karyawan selalu diyakinkan bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah amanah dari Allah untuk dikelola bersama, tiada yang menggaji semuanya kecuali hanya Allah, bekerja adalah beramal saleh, beribadah, dan berjihad di jalan-Nya, bukan semata mata hanya mencari uang. Andaikan bekerja hanya mencari uang, bagaimana kalau mati sebelum gajian? Niscaya sangat rugi, uang tidak didapat, pahala amal pun lepas. Tentu saja semua ini harus diawali dan dibarengi dengan suri tauladan yang baik, serta kejujuran dan keadilan para managernya, khususnya pemilik usahanya tersebut. Niscaya Allah tidak mengecewakan pengusaha yang menjadikan bisnis yang dilakukannya sebagai ladang jihad.

Contoh lain yang harus kita evaluasi, dan orang banyak menganggapnya sepele adalah waktu salat. Kita harus hati-hati jangan sampai karyawan lalai apalagi melupakan salat. Jelas sekali, produktivitas yang dihasilkan karyawan yang tidak melakukan salat tidak akan membawa berkah baik untuk dirinya maupun untuk pemilik perusahaan. Keuntungan memang harus dikejar semaksimal mungkin, tetapi apa artinya keuntungan yang melimpah apabila membawa malapetaka.

Karenanya, jikalau sudah sampai waktu salat, hentikanlah seluruh aktivitas pekerjaan. Berikanlah waktu luang kepada seluruh karyawan untuk mendirikan salat dan memanjatkan doa. Sekali-kali jangan takut akan mengurangi keuntungan, justru sebaliknya, karena dengan doa yang tulus dari karyawan-karyawan yang diberi keluangan waktu salat tadi, doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Siapa tahu salah seorang dari karyawan kita ada yang sangat dekat kepada Allah sehingga doanya sangat di-ijabah guna kemajuan perusahaan.

Yakinlah, bahwa yang memberi rezeki hanya Allah. Jikalau Allah menakdirkan untuk mendapat rezeki pasti tiada satu pun dapat menolaknya, dan tentu saja yang sangat penting adalah keberkahan dalam rezeki yang diterima, maslahat bagi dunia dan akhirat.

Saya termasuk orang yang tidak mau pusing dengan keadaan sekarang kalau hanya memperlemah kemampuan kita. Situasi sesulit apa pun pilihannya cuma satu, kita harus bangkit bersama-sama! Tidak ada waktu untuk mengeluh dan mencela.

Akan tetapi sadarlah, kita tidak punya waktu untuk itu semua. Waktu kita sangat terbatas. Satu-satunya pilihan, kita harus bangkit! Allah Mahakaya. Mau seperti apa pun keadaan, rezeki Allah tidak akan pernah berkurang. Bagi yang muda ini adalah kesempatan. Kita disiapkan untuk sukses oleh Allah. "Faalhamaha fujuraha watakwaahaa," kita sudah diilhami potensi positif dan potensi negatif.

Jadi, jiwa wirausaha ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Jika tidak, potensi apa pun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Orang yang jahil, ketika dia melihat batu, mungkin hanya akan dia pakai untuk melempar orang. Tetapi seorang wirausahawan, ketika melihat batu, bisa dikemasnya dengan kreatif sehingga punya nilai tambah. Inilah bedanya.

Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekadar menjadi pekerja, tapi menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi yang ada di negeri ini tidak tergali. Repotnya, kita suka ingin "untung ladang enteng", kerja sedikit untung besar. Ini yang salah! Bagi seorang entrepreneur, keuntungan tidak selalu bermakna besarnya laba. Sebab dengan memperoleh ilmu saja sudah merasakan keuntungan yang luar biasa.

Di sisi lain, persoalan bisnis tampaknya masih menjadi salah satu kelemahan umat Islam. Sebabnya tiada lain karena urusan bisinis dianggap sebagai urusan duniawi. Padahal bisnis menjadi urusan duniawi jikalau niat dan caranya salah, tetapi jika niat dan caranya benar maka bisnis adalah jihad.

Kriteria bisnis sebagai ladang jihad adalah pelurusan akan pemahaman makna jihad itu sendiri. Jihad tidak selalu identik dengan pertempuran, bersimbah keringat berkuah darah, tapi harus kita lihat apa yang menjadi titik lemah umat, yang ternyata ada pada bidang perekonomian. Artinya, kalau kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk kemaslahatan umat di bidang ekonomi, maka insya Allah upaya seperti ini juga adalah jihad. Wallahu a`lam.

.::Artikel Menarik Lainnya::.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar